Prinsip

Ini kisah seorang muslim yang saya kenal di Singapura. Sebut saja dia A.

Baru sekitar setengah tahun bergabung dengan sebuah perusahaan, dia mendapatkan sebuah ujian. Perwakilan dari perusahaan klien paling penting dari perusahaannya ingin datang berkunjung di hari Jumat. Klien tersebut adalah penyandang dana tunggal dari proyek yang dia kerjakan. Dan memang, A yang paling mengerti dan bertanggung jawab akan proyek tersebut. Ketika meeting dengan beberapa kolega dan bosnya, dia diberikan kabar itu. Seperti biasa, dia bilang ke bos nya:
“Baik. Tapi saya ketika siang harus pergi beberapa saat untuk shalat Jumat.”

Tidak diduga, bosnya tidak senang. Dia berkata bahwa klien ini sangat penting dan dalam hidup di dunia semua harus bisa berkompromi.
The world is built on compromises,” kata bos.
Bos pun berargumen lagi. Klien mungkin hanya akan datang beberapa kali dalam setahun, dan tidak semuanya di hari Jumat. Keadaan pun menjadi tegang karena A tetap bersikeras. Akhirnya pembicaraan pun ditunda karena agenda meeting dengan beberapa kolega kali itu adalah diskusi teknis.

Di kesempatan selanjutnya, bos lagi-lagi mendesak A. Tapi A tetap bertahan untuk tetap pergi shalat Jum’at. Si bos bilang menurut informasi temannya di Malaysia, boleh tidak pergi shalat Jum’at karena masalah darurat dan cukup diganti shalat Dzuhur saja. Tapi A tetap bersikeras bahwa masalah ini bukanlah darurat. A mungkin teringat perintah yang keras dari Rabb-nya:

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,” (Al-Jumu’ah: 9).

Dan juga perkataan panutannya shalallahu alaihi wa sallam:

Dari Thariq bin Syihab ra bahwa Rasulullah bersabda, “Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali (tidak diwajibkan) atas 4 orang. [1] Budak, [2] Wanita, [3] Anak kecil dan [4] Orang sakit.” (HR Abu Daud)

Sepertinya, sebagian muslim yang tidak memiliki komitmen untuk menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya memang membuat hidup jadi lebih susah untuk muslim lainnya. Ini karena non muslim jadi bisa saja membandingkan dengan membabi-buta:
“dia saja tidak selalu shalat jumat”,
“dia saja kadang-kadang minum bir/wine”,
dan lain-lain.

Bos pun tidak menyerah, dia bilang bahwa dia juga seorang “believer”. Dia pergi ke gereja tiap minggu, tapi jika ada kerjaan penting dia bisa saja tidak datang. Tentu saja A tetap bersikeras karena standar si bos dalam beragama bukanlah standar beragama dalam hidupnya.

Akhirnya sebagai jurus pamungkas, bos pun setengah mengancam. Bos bertanya: “Jika terjadi apa-apa dengan proyek ini maka tidak akan ada pekerjaan. Kamu mau bertanggung jawab?”. Akhirnya, A pun menyatakan siap menanggung segala resiko. Bos pun terdiam dan hari itu berlalu dengan canggung bagi mereka berdua.

Hari dan pekan pun berlalu. A tetap bekerja sebaik mungkin untuk mempersiapkan hasil-hasil pekerjaannya untuk dipresentasikan ke hadapan sang klien. A pun sudah mengabarkan ke istrinya untuk bersiap-siap jika dia terpaksa menjadi pengangguran sementara karena mempertahankan prinsip. Istrinya hanya tersenyum dengan penuh pengertian. Akhirnya hari Jumat itu pun tiba.

Briefing dimulai jam 8.30 pagi. Klien datang jam 9.30. Disini ternyata bos sudah mulai luluh hatinya. Atau mungkin sudah menyerah dengan teguhnya sikap A. Bos pun menyampaikan ke klien bahwa ketika jam makan siang nanti A perlu break, walaupun alasannya tidak disebutkan. Klien pun cuma mengangguk-angguk saja. Akhirnya, presentasi yang isinya masalah teknis dimulai pada pukul 10. Slides demi slides ditampilkan. Topik demi topik pun dibahas. Pertanyaan demi pertanyaan dijawab. Akhirnya presentasi dan diskusi teknis pun selesai sekitar jam 12. Sesinya sukses. Masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum masuk waktu Dzuhur. Sangat cukup waktu untuk pergi ke masjid dan menunaikan shalat Jum’at.

Akhirnya A mencoba mengkonfirmasi kepada bos apakah masih ada yang perlu dia perjelas nanti setelah shalat Jumat. Ternyata tidak, setelah makan siang agendanya adalah business talk. Ini karena diskusi teknis yang sangat lancar barusan. Jadi, tidak perlu ada pertemuan masalah teknis lanjutan di hari itu. Mengenai business meeting, tentu saja pegawai macam A tidak perlu ikut dalam meeting tersebut. Ini hanya diskusi antara bos dan klien. Melibatkan masalah uang.

A merasa lega. Mungkin lagi-lagi dia teringat pada firman Allah:

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3)

Dan sungguh, jika akhirnya tidak seindah kisah ini pun, jika A terpaksa harus menganggur sementara karena mempertahankan prinsipnya dalam beribadah kepada Allah Rabb semesta alam, semua hanya ujian.

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Al Baqarah: 155-156)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s