Karena hidup adalah kumpulan pilihan

Saya hanya seorang lelaki biasa yang, atas karunia dari Allah saja, sempat mengenyam pendidikan tinggi dan sekarang bekerja di luar Indonesia. Akan tetapi, sering sekali ada bisikan di hati untuk pulang karena banyak faktor, misalnya karena keluarga besar di Indonesia dan pendidikan keIslaman untuk keluarga. Akan tetapi, mungkin justru karena latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang tinggi tetapi sangat spesifik membuat keputusan tersebut sangat sulit untuk dibuat. Sebagai kepala keluarga, pastinya saya harus bekerja untuk menopang hidup keluarga.

Pilihan pertama: Bekerja di Universitas atau Lembaga Riset di Indonesia

Dari latar belakang pendidikan, pilihan ini sangat cocok. Akan tetapi, sudah bukan rahasia lagi bahwa penghasilan yang akan didapat dari pilihan ini lebih rendah dari kebutuhan (terutama jika tinggal di Jabodetabek). Apalagi untuk keluarga dengan (insya Allah) 3 orang anak. Tentu saja pekerjaan sampingan bisa diakukan untuk menunjang hidup keluarga. Konsekuensinya, waktu yang seharusnya bisa untuk keluarga jadi terbuang di jalan untuk mengais-ngais penghasilan tambahan. Suasana kerja pun sepertinya masih sangat jauh dari ideal.

Faktor beratnya tuntutan hidup tentu saja akan berkurang jika tinggal di kota kecil. Harus dicatat juga bahwa semakin kecil suatu kota, dan semakin kecil biaya hidup yang dibutuhkan, akan semakin sulit juga untuk mengakses fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan pekerjaan atau kenyamanan keluarga. Mungkinkah ada kota yang punya fasilitas lumayan tapi biaya hidup tidak tinggi? Mungkin Yogyakarta?

Untuk segelintir universitas negeri top, mungkin sekarang keadaan sudah jauh lebih baik. Misalkan, dosen peneliti inti UI bisa dapat sekitar Rp. 12 juta sebulan. Akan tetapi, sebelum bisa mencapai posisi itu, minimal satu atau dua tahun seorang dosen harus bisa bertahan dengan penghasilan yang cukup rendah. Track record yang dibangun juga haruslah bagus.

Universitas swasta sekarang juga sudah mulai menunjukkan geliatnya. Beberapa universitas swasta justru terlihat lebih agresif dalam merekrut SDM yang berkualitas. Akan tetapi stabilitas keuangan dan kebijakan bisa menjadi ganjalan. Layaknya perusahaan startup, universitas swasta yang baru atau dengan model bisnis yang baru perlu membuktikan daya tahan mereka dalam menghadapi persaingan.

Pilihan kedua: Bekerja di industri/perusahaan

Hampir semua industri di Indonesia tidak membutuhkan karyawan dengan latar belakang PhD (apalagi postdoc). Jadi strategi yang paling masuk akal adalah berkompromi dengan bidang pekerjaan yang ada. Dan untuk orang-orang semacam saya, ini sudah bukan hanya “banting setir” akan tetapi sudah “ganti mobil”.
Menjamurnya startup di beberapa kota besar di Indonesia cukup menjanjikan. Dari segi penghasilan yang bisa didapat pun tidak lah mengecewakan. Skill negosiasi sangat berperan disini. Terlebih lagi, “talent pool” yang masih cukup terbatas di Indonesia membuka kesempatan yang lebar bagi lulusan LN (asalkan tetap rendah hati dan mau belajar) yang ingin kembali bekerja di Indonesia tercinta. Budaya startup yang informal, dan biasanya waktu kerja yang cukup fleksibel,  juga salah satu daya pikat tersendiri.

Pilihan ketiga: Membuat perusahaan/startup atau menjadi freelancer/konsultan

Opsi ini mungkin paling beresiko karena berarti hampir seluruh tanggung jawab ada di pundak sendiri. Modal uang (ini bisa dibantu investor) dan waktu pribadi yang perlu diinvestasikan juga cukup tinggi. Akan tetapi, kepuasaan yang didapat ketika bekerja mungkin sulit dikalahkan oleh profesi karyawan.

Jika dicermati, pasar di Indonesia sangat luas sehingga secara hitungan kasar di atas kertas masih banyak peluang usaha bagi mereka yang jeli. Mungkin sering pulang dan diskusi dengan pelaku bisnis di Indonesia berguna bagi mereka yang ingin menangkap peluang-peluang tersebut.

Seorang teman yang sekarang meneruskan studi di Berkeley pernah berkomentar ketika saya baru pindah ke industri R&D, “Jadi sudah gak balik ke akademia dong ya?”. Ketika itu saya jawab, “Mungkin saja balik, insya Allah.” Dia tersenyum lalu berkata, “Kayaknya kalo sudah merasakan uang di industri bakalan berat balik ke akademia.” Ketika itu saya hanya tersenyum saja, kemudian berkata, “Oh, gitu ya?”.

Sekarang?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s