Rencana pensiun

Terlalu dini

Ada teman yang berkata kepada saya bahwa saya masih muda, jadi terlalu dini untuk memikirkan rencana pensiun. Mungkin ada benarnya, bahkan yang lebih penting lagi adalah belum tentu saya akan hidup sampai masa pensiun. Kadang saya jadi teringat cerita Mama saya tentang angan-angan Papa (rahimahullah) dahulu. Beliau membayangkan bahwa ketika nanti sudah pensiun dan jadi kakek-kakek akan pergi berduaan dengan Mama, yang tentu saja sudah menjadi nenek-nenek, setiap bulannya ke kantor pos untuk mengambil uang pensiun. Berjalan berdua, tertatih, bergandeng-tangan. Siapa yang mengira bahwa ternyata Papa saya meninggal di usia yang relatif muda, masih sangat jauh dari masa pensiun.

Akan tetapi, saya merasa sesekali memikirkan rencana pensiun cukup banyak manfaatnya. Karena saya (mungkin bisa digeneralisasi ke banyak orang) seringkali memikirkan untuk mengisi aktivitas pensiun dengan kegiatan yang dia senangi. Bahkan termasuk kegiatan yang sebelumnya tidak mampu dia lakukan karena sibuk dan kerasnya tuntutan kehidupan di usianya yang lebih muda. Papa saya contohnya, dengan angan-angannya itu mungkin merasa bahwa beliau terlalu sibuk bekerja dan mungkin kurang menghabiskan waktu dengan seseorang yang dia cintai, Mama saya (hafizhahallah).

Prioritas tentu saja berbeda untuk setiap orang, banyak sekali faktor yang bisa mempengaruhinya. Mampu mengenali apakah hal-hal penting tersebut adalah suatu pencapaian pribadi, menurut saya. Mampu mengidentifikasi apakah hal-hal itu hanya akan menjadi penting dalam kurun waktu tertentu, atau untuk selamanya, adalah pencapaian yang lebih lanjut lagi.

Aktivitas pensiun

Ada beberapa aktivitas yang ingin saya lakukan secara rutin nanti, jika Allah mengizinkan.

  1. Mengajar baca Al-Qur’an beserta tajwid kepada anak-anak kecil (atau orang dewasa yang membutuhkan) di waktu pagi dan sore.
    Aktivitas ini sangat mulia, dan sangat indah rasanya jika saya bisa memulai dan menutup hari dengannya. Konsekuensinya adalah saya harus mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar juga memiliki kemampuan untuk mengajarkannya. Terus belajar dan berlatih adalah keniscayaan. Insya Allah saya akan memulai dengan mengajar anak-anak saya sendiri dalam waktu dekat.
  2. Tinggal di desa dan beternak.
    Ini impian saya sejak saya mengunjungi sebuah desa di daerah Dataran Tinggi Dieng bertahun-tahun yang lalu. Udara segar, bahan makanan yang segar dan sehat (sayur-mayur dan buah-buahan yang masya Allah rasanya tidak pernah saya rasakan di kota), air yang masih bersih alami tanpa perlu filtrasi apalagi desalinasi, mungkin hanya sebagian dari daya tarik suasana pedesaan.
    Ternak yang menarik untuk dikembangkan bagi saya adalah kambing/domba, sapi dan kuda. Mungkin alasannya karena bisa digembalakan di pedesaan.
    Semoga suasana alam pedesaan masih bisa terus dilestarikan.
  3. Sesekali mengajar fisika di SMA atau universitas pinggiran.
    Karena berlokasi jauh dari kota besar bukan berarti sebuah sekolah tidak ada bibit potensial. Semoga saja dengan saya berusaha berbagi ilmu dan pengalaman dapat bermanfaat bagi bibit-bibit potensial tersebut. Saya suka Fisika, dan tentu saja sangat senang untuk berbagi sesuatu yang saya sukai dengan banyak orang. Terlebih lagi ini merupakan sarana untuk mengajarkan cara berfikir ilmiah, yang insya Allah diperlukan dalam kehidupan banyak orang.
  4. Menjadi instruktur taekwondo.
    Belajar ilmu beladiri sangat bermanfaat untuk melatih fisik dan mental. Kenapa taekwondo? Sebenarnya ilmu bela diri apapun tidak masalah, menurut saya. Hanya saja saya sudah berkenalan dengan taekwondo dan alasan saya menekuninya karena bagi saya ada keindahan yang unik dibandingkan beladiri yang lain. Sebagian orang mungkin bilang bahwa taekwondo adalah ilmu beladiri yang tidak praktis, dalam artian sulit untuk menggunakannya sesegera mungkin dalam perkelahian. Mungkin mirip alasannya dengan kenapa saya lebih memilih kuliah di jurusan Fisika daripada Teknik. Jika saya telah menempuh pendidikan dari S1 sampai S3 di Fisika dan mampu melakukan riset yang aplikatif, kenapa Taekwondo tidak bisa digunakan untuk hal-hal yang aplikatif juga?

Refleksi

Setelah menuliskan hal-hal di atas, saya menyadari bahwa rencana pensiun saya sangat mirip atau paling tidak berkaitan dengan aktivitas saya sekarang. Jadi kesimpulan sementara bahwa saat ini saya sudah bekerja dan beraktivitas sesuai dengan passion saya. Alhamdulillah.

Sekarang saya masih aktif melakukan penelitian di bidang terkait Fisika, dengan kolaborasi dengan para ahli bidang teknik. Sebuah proposal yang saya buat dengan 2 professor bidang teknik (asal Singapura dan USA) pada akhir tahun yang lalu berhasil mendapatkan dana penelitian untuk 3 tahun ke depan, dimulai dari 1 November 2013 ini. Menariknya rencana riset kali ini cukup bersifat interdisiplin, tercermin dari penyusun proposalnya yang memiliki latar belakang Fisika (saya), Teknik (Singapura) dan Matematika Terapan (USA). Tentu saja rencana riset masih bisa gagal, bahkan bisa dibilang investasi riset sama resikonya atau bahkan bisa lebih beresiko daripada investasi bisnis. Tapi hidup tanpa resiko dan tantangan mungkin akan menjadi terlalu membosankan. Bekal pendidikan formal dan pengalaman riset inilah yang nanti bisa menjadi bekal untuk membantu mendidik dan memotivasi geberasi penerus.

Saya juga terdaftar sebagai seorang mahasiswa program BA in Islamic Studies dari Islamic Online University. Selama dua semester awal ada kuliah khusus tajwid dan latihannya di “depan” guru-guru tajwid yang kebetulan saya selalu dapat orang Mesir. Koneksi internet yang bagus mampu membuat jarak yang jauh menjadi tidak berarti. Ini cukup menjadi bekal untuk mengajar tajwid. Semoga saya bisa konsisten menjalankan aktivitas ini sampai selesai dalam 8/9 semester.

Saya juga rutin mengikuti latihan taekwondo 2x seminggu di kampus tempat saya bekerja. Efek langsung (hanya beberapa bulan) yang saya bisa rasakan adalah berubahnya berat badan ke arah berat ideal dan meningkatnya daya tahan tubuh serta resistensi terhadap stress karena pekerjaan.

Saya telah memulai berinvestasi kecil-kecilan dalam peternakan kambing yang dirintis seorang teman di daerah pinggiran Jakarta. Disini saya berharap untuk mulai belajar berbisnis dan belajar juga mengenai hal-hal yang perlu diketahui untuk menjadi peternak. Ini sulit untuk dipelajari tanpa praktek, makanya saya memutuskan untuk mencoba learning by doing, little by little.

Penutup

Semoga apa yang saya tuliskan hari ini bisa menjadi pengingat diri saya pribadi jika sedang lemah semangat dan malas. Semoga juga siapapun yang membacanya dapat mengambil pelajaran yang bermanfaat untuk diri masing-masing. Semoga tulisan ini bukanlah bentuk narsisme terselubung yang kadang bahkan tersembunyi dari penulisnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s