Berani tidak pulang ke Indonesia?

Peta Indonesia

Ada fenomena menarik sebagian masyarakat Indonesia yg seolah-olah menuntut para penuntut ilmu segera kembali ke Indonesia untuk bekerja ketika selesai studi doktornya. Mungkin jika beasiswa selama sekolah yg didapat dari pemerintah Indonesia, tuntutan tersebut bisa dijustifikasi. Tapi harus diakui bahwa banyak sekali doktor lulusan luar negeri asal Indonesia, terutama yang (relatif) masih muda (dibawah 30 tahun), bukan penerima beasiswa pemerintah Indonesia atau yang khusus didapat karena rekomendasi pemerintah Indonesia.

Jika ada yang berargumen bahwa andil pemerintah juga besar dengan bukti kebanyakan pemuda Indonesia mendapatkan beasiswa luar negeri sebab sebelumnya menempuh pendidikan di sekolah dan universitas negeri yang bagus di dalam negeri, maka saya kira itu sedikit berlebihan. Kalau kita ingin mempertimbangkan andil tersebut, maka mungkin juga lebih utama untuk dipertimbangkan adalah andil orangtua, kemudian andil guru-guru kita dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Perlu disadari bahwa meskipun andil pemerintah pastinya ada, tapi tidaklah lebih besar daripada andil pemberi beasiswa S3 yang biasanya juga mencakup biaya hidup. Dan seringkali negara pemberi beasiswa S3 tersebut tidak memberi syarat apapun setelah lulus, misalnya harus bekerja disana selama beberapa tahun sebelum boleh kemana-mana

Ekstrim yang lain adalah sebagian masyarakat yg sangat tidak menyarankan kembalinya doktor-doktor muda lulusan luar negeri ke Indonesia. Ini beberapa kali juga dialami oleh saya, dan para pemberi saran beralasan bahwa kesejahteraan, kultur dan fasilitas riset di Indonesia sangat tidak terjamin; jadi buat apa kembali lagi? Ini sangat manusiawi, dan saya memakluminya. Terkadang beberapa teman saya hanya mencoba untuk realistis ketika memberi saran semacam itu.

Pendapat saya pribadi berbeda dengan dua ekstrim diatas, saya tidak menafikan sama sekali kemungkinan untuk pulang kembali bekerja di Indonesia. Pun saya tidak menafikan sama sekali kemungkinan untuk tidak pulang kecuali ketika liburan dan mendekati masa pensiun, jika Allah mengizinkan. Sejujurnya, untuk pulang kembali ke Indonesia dan berkarya dengan cukup nyaman butuh persiapan matang. Dan itu butuh waktu yang berbeda utk setiap orang. Berkarya di Indonesia dan di luar negeri memiliki tantangan masing-masing. Bukankah banyak yang pulang ke Indonesia karena setelah lulus doktor tidak lolos dalam kompetisi mendapatkan pekerjaan yang sangat keras di luar?

Mungkin tidak banyak disadari, salah satu tantangan bekerja di luar negeri adalah bersaing dengan warga dari negara tersebut. Lumrah sekali bahwa mereka memiliki banyak keunggulan dari segi birokrasi. Tentu saja employer akan melihat “the whole package”, bukan hanya kemampuan teknik atau bahasa belaka. Hal ini mungkin diperparah bila bidang yang ditekuni memiliki posisi yang sangat terbatas, sedangkan jumlah saingan jauh lebih banyak. Bila tidak bisa mendapatkan kerja yang sesuai maka bisa tidak dapat visa dan tidak bisa tinggal di luar negeri. Padahal, bila kembali ke Indonesia lebih banyak harapan untuk mendapat bantuan dari orangtua, keluarga dan sebagainya. Bahkan tidak kerja yang sesuai bidang pun bisa bertahan hidup dengan cukup layak, bahkan mungkin bisa lebih sejahtera daripada menekuni riset.

Jadi ini bukan masalah berani atau tidak berani, tidak segampang itu. Tidaklah seperti yang digembar-gemborkan oleh sebagian orang.

Saya yakin tanah air Indonesia pasti dirindukan oleh mereka yang lahir dan tumbuh berkembang di atasnya, walaupun kini mereka jauh di negeri orang. Tapi rasa sentimentil bukan alasan yang bagus utk membuat keputusan. Keputusan seharusnya dibuat dengan akal sehat dan pertimbangan yang matang. Mencari mana yang manfaatnya lebih besar dan yang kerugiannya lebih kecil. Tentu saja pertimbangan seorang bujangan akan sedikit berbeda dengan pertimbangan seorang kepala keluarga dan sebagainya.

Dan mengenai nasionalisme, yang kadang membuat pandangan manusia yang seharusnya luas menjadi menyempit, saya ingin menyampaikan beberapa kalimat berikut yang terinspirasi dari beberapa tulisan yang saya baca.

Batas antar wilayah dan negara adalah buatan manusia
Tetapi saya percaya bumi ini bukan diciptakan manusia
Bumi bukan juga milik manusia
Seseorang yang berkelana melewati batas-batas tersebut, meninggalkan kampung halamannya, sejatinya masih berada di tanah yang sama
Dalam perjalanannya dia akan menemukan “pengganti” keluarga, sahabat, dan lain-lain yang dia tinggalkan
Orang-orang yang memiliki jiwa-jiwa yang serupa dengannya
Meski mungkin warna kulit dan bentuk fisik tidak serupa
Bisa jadi ketika berkelana dia akan bertemu dengan sesama pengelana dari kampung halamannya
Dan mereka akan bercerita tentang keindahan kampung halaman
Cerita yang membuat rindu dan mungkin membuatnya ingin kembali pulang kesana
Tapi dia mengerti
Sejatinya dia masih menginjak bumi yang sama dengan kampung halamannya
Dan batas tanah yg dia injak hanyalah batas-batas di sudut hatinya

ADDENDUM (10/1/2013):

Banyak teman dan sahabat yang memberikan masukan yang sangat berharga di media lain, bukan WordPress. Sehingga akhirnya saya merasa perlu untuk menambahkannya disini.

Bagi yang telah berkeluarga salah satu pertimbangan yang penting adalah lingkungan yang kondusif untuk hidup berkeluarga dan tumbuh kembang anak. Kualitas hidup seperti makanan sehat, tingkat kejahatan yang rendah menjadi sangat penting. Bagi yang muslim, bagaimanapun mayoritasnya pasti ingin menanamkan nilai-nilai Islami ke anak-anak mereka. Hal ini menjadi cukup menantang bila tinggal di negara yang penduduknya mayoritas bukan muslim, atau malah mayoritas tidak beragama.

Disini saya lihat, Singapura mungkin punya sedikit keunggulan dibandingkan negara dengan penduduk mayoritas non muslim lainnya. Makanan halal dan masjid mudah dicari. Mayoritas orang Singapura mengerti tentang ritual sholat Jumat, karena secara kultural masyarakat Melayu punya sejarah panjang. Tidak saya pungkiri ada perusahaan yang berusaha membatasi ini, karena mungkin dianggap mengurangi produktivitas. Tapi tentu saja kita bisa memilih. Untuk tetap menuntut ilmu agama di sela kesibukan bekerja juga relatif tidak sulit, karena cukup banyak ustadz yang kompeten di bidangnya, walaupun mayoritas kelas/kajian dalam bahasa Melayu yang pada awalnya, dan akan membaik seiring waktu, terdengar aneh bagi teling orang Indonesia. Idul Fitri dan Idul Adha pun dari dulu sampai sekarang masih menjadi hari libur nasional.

Tentu saja saya juga melihat beberapa kenalan muslim atau muslimah yang dalam pemikiran dan perilaku menjadi lebih “barat” daripada “orang barat”, padahal dari kecil sampai SMA tinggal di Indonesia, baru kuliah saja di Singapura. Ini kenyataan, dan mungkin nasibnya tidak begitu jauh berbeda apabila tinggal di Jakarta atau kota besar lain di Indonesia jika dia bergaul rapat dengan kumpulan orang yang salah. Allahua’lam.

Kemudian, ada teman mengingatkan bahwa kontribusi yang terbesar adalah bila semakin banyak yang bisa merasakan kontribusi tersebut. Kalau bisa, berkontribusilah untuk seluruh umat manusia! Bukan cuma berkontribusi untuk negara yang mengeluarkan paspor kita saja. Kita lihat memang ada segelintir peneliti yang sukses di luar negeri, tapi kemudian memilih untuk kembali pulang ke Indonesia dengan segala keterbatasannya. Bisa jadi alasan utama mereka bukanlah nasionalisme sempit, tapi karena kenyataannya Indonesia lebih membutuhkan ilmu mereka daripada negara maju yang mereka tempati. Ini dilihat dari segi kemanusiaan.

EPILOG

Para pembaca mungkin ada yang belum menyadari, judul artikel diatas sengaja dipilih seperti itu karena dengan jeda (berhenti sejenak) yang berbeda akan punya makna yang berbeda. Bandingkan jika anda baca:
Berani tidak [jeda] pulang ke Indonesia?
dengan
Berani [jeda] tidak pulang ke Indonesia?

4 thoughts on “Berani tidak pulang ke Indonesia?

  1. Hendra Taruna

    Kalau ane pribadi setuju Wo, bumi Allah luas, tersera kita mau mencari rejeki dimana aja asal halal, mengenai isu Nasionalisme dsb sih menurut ane itu relatif dan udah mulai “usang” kok🙂

    Balas
  2. Muhammad Jazman

    bukan masalah nasionalisme, wo … tapi masalah bahwa RANTAI KEMISKINAN itu disebabkan sebahagiannya dari KEBODOHAN.

    Jika orang pintar di Indonesia masuk angin,
    bagaimana nasib bangsa ini?

    tapi … berkarya untuk Indonesia tidak harus dilakukan di Indonesia … silahkan berkarya di luar negeri, jangan lupa bahwa banyak yang bisa Anda bantu untuk Indonesia dari luar negeri sana …

    saya lebih setuju kalau ada orang Indo yang kerja di luar dan bisa memberi banyak manfaat bagi anak bangsa, daripada balik ke Indonesia dan mengutuk-ngutuk pemerintah dan menyebarkan aura negatif, seolah-olah semuanya salah, tapi tidak memberikan solusi …

    cheers …
    dari gw tidak hanya balik ke Indonesia, tapi balik ke kampung … ke hutan, ke tempat yang untuk Internetnya dahulu harus pakai VSAT im2 dan listrik dengan diesel

    Balas
  3. sufipunk

    sangat menyenangkan dengan adanya blog ini.jangan di lingkungan asia dan barat kami di jazirah arab timtengpun tak sedikit orang indo yg berkarya namun mereka bukan berarti tak mau pulang tapi takut untuk pulang ketidak siapan yang memapan hati membuat mereka menetap di negara orang,dan bnyk dari kami merasa bahwa kami banyak di hargai di negara orang drpd di negara sendiri yang sejatinya saya tau jahat buruknya negara orang dan sendiri….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s